Asal Usul Desa Ngadirejo Kecamatan Reban Kabupaten Batang

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti, kapan desa Ngadirejo berdiri untuk pertama kali. Namun, berdasarkan cerita yang berkembang, bahwa Ngadirejo sekarang ini merupakan desa pindahan. Awalnya, desa ini bernama Desa Gunungsari yang berlokasi di arah barat laut, kira-kira 1 km dari Ngadirejo sekarang. Atau tepatnya di sebelah barat dukuh Adiloyo atau sebelah selatan persis Desa Reban.
Hingga saat ini, bekas desa itu merupakan persawahan subur yang luas yang masih bernama Gunungsari. Kuburan Baron, kini kuburan Adiloyo, merupakan kuburan untuk desa Gunungsari. Sehingga, tumpukan batu di area Melekan (arah Barat Gunungsari), yang merupakan bekas pondasi masjid yang konon hendak didirikan oleh para Wali, merupakan rencana masjid di dekat permukiman desa Gunungsari. Konon, Karena mendengar suara orang “nutu” (menumbuk padi dengan lumpang atau lesung), maka masjid itu urung didirikan.
Pada saat itu, tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh bernama Mbah Singomerto yang makamnya berlokasi di Kuburan Baron. Menyebut Singomerto, mengingatkan kita pada legenda Ken Sari, yang berlatar sejarah di Lereng Gunung Kemulan. Dalam legenda itu terkenal tokoh yang bernama Singoputih dan Singowelang yang menghuni perguruan di Puncak Gunung Kemulan. Penggunaan nama “Singo” merupakan ciri khas ketokohan kala itu.

Pada pertengahan tahun 1800-an (tahun tepatnya belum diketahui), seluruh masyarakat desa Gunungsari bersepakat pindah atau bedol desa ke arah tenggara di areal yang sekarang ini dan merubah nama menjadi Desa Ngadirejo. Siapa yang memberi nama, hingga saat ini juga belum diketahui. Begitu pula tentang pemaknaan atau arti dari nama Ngadirejo itu sendiri. Namun demikian, secara bahasa, ada dua versi pengartian. Pertama, Ngadirejo berasal dari kata “Adi” (besar/agung/super) dan “Rejo” (sukses/maju/ makmur/jaya), Sehingga berarti “Sukses besar.” Kedua, Ngadirejo berasal dari akronim kata “Ngadi” atau “Ngudi” (berusaha/mencari) dan “Rejo” (sukses/maju/makmur/jaya), sehingga berarti mencari kesuksesan.

Diluar itu, ada pula yang mereka-reka akronim dari kata “Ngadir” (menyombongkan) dan “Rejo” (sukses/maju/jaya) sehingga berarti menyombongkan kesuksesan (ngadir-ngadirke rejane). Yang terakhir ini, merupakan pengartian yang menurut penulis, kurang tepat dan sekedar mencocok-cocokkan saja (othak athik mathuk).

Alasan bedol desa dilakukan karena masyarakat waktu itu kehilangan rasa aman. Semenjak meninggalnya Mbah Singomerto yang begitu berpengaruh dan ditakuti baik oleh kawan maupun lawan, desa selalu diganggu oleh begal, garong dan maling. Hal ini terjadi karena figur tokoh yang ditakuti para penjahat waktu itu sudah tiada. Sebagaimana diceritakan banyak sumber, Mbah Singomerto merupakan tokoh sangat sakti dan digjaya. Konon, ilmu “Ketunggengan” yang dimiliki beliau bisa membikin maling terpaku bagai patung hingga pagi tiba. Maling yang mematung itu baru akan sadar ketika telah ditepuk oleh Mbah Singomerto. Dengan meninggalnya Mbah Singomerto, seolah desa telah kehilangan pelindung, hingga para begal merasa tidak ada yang ditakuti lagi. Maka, tak henti-henti masyarakat diteror oleh kejahatan maling dan begal. Maka, berdasarkan kondisi yang begitu mencekam, seluruh masyarakat bersepakat memindahkan desa ke lokasi lain yang lebih aman. Nama Ngadirejo di lokasi baru diharapkan membawa harapan baru menuju kesuksesan dan kebahagiaan serta masa depan yang menjanjikan.

Pemilihan lokasi baru di area sekarang ini, bukan tanpa alasan. Sebab, tanah ini merupakan tanah bersejarah dan memiliki petilasan kuno. Di sudut barat desa, tepatnya dibelakang rumah penulis, terdapat bekas peninggalan kuno jaman Hindu, yakni bekas pertapaan atau peribadatan berupa Klenteng. Kini, bekas inti candi berupa dataran dan batu lumpang yang mirip Yoni itu telah hancur akibat dari tangan-tangan jahil para pencari baru. Sewaktu penulis kanak-kanak dulu, batu candi itu sering digunakan untuk menyepi atau bersemedi oleh para pengamal spiritual tertentu. Pada tiap malam Jum’at Kliwon atau Selasa Kliwon, sering berdatangan para penyepi dan meninggalkan bekas sesaji berupa kembang setaman, wedang telon, rokok siong, dan lain-lain. Dengan adanya bekasan Klenteng ini, hingga saat ini, Kampung RT 5/RW 2, lokasi dimana bekasan klenteng itu berada, dikenal dengan sebutan “Kampung Kentheng.”

Saat kepindahan atau bedol desa ini terjadi, datang pula tokoh penyebar Islam atau muballigh ke Ngadiejo baru. Beliau adalah Ki Agung Bromosari atau Syekh Bromosari yang makamnya berada tepat ditengah pemakaman umum desa. Hingga saat ini, setiap tanggal 11 Muharam, diperingati sebagai Hari Haul untuk mengenang jasa-jasa Beliau yang teramat besar dalam mengenalkan Islam di Ngadirejo. Ada dua versi asal muasal Beliau. Pertama dikisahkan bahwa belliau adalah dai atau mubaligh yang diutus langsung dari Kraton Surakarta. Versi kedua menyebutkan bahwa Beliau diutus dan datang langsung dari Krator Cirebon untuk mengemban dakwah di wilayah pedalaman Batang.

Perjuangan Dakwah kemudian dilanjutkan oleh para penerusnya. Dibangunlah tempat Ibadah atau Langgar pertama kali, sebagai langgar tertua, di RT 05/02 (Sekatang Langgar At-Taqwa) yang kemudian dikelola dan dimakmurkan oleh Mbah Duljamad bin Markawi. Disamping itu, didirikan pula Langgar di RT 04/01 yang dimotori oleh Mbah Romli, putra Mbah Singomerto, tokoh legendaris di desa Gunungsari. Mbah Romli kemudian menurunkan kepengelolaan musholla itu kepada putranya, Mbah Rahmat. Baru pada tahun 1940-an, didirikan Masjid al-Mustaqim di tanah milik Mbah Lurah Sastro. Masjid inilah yang merupakan Masjid Jami’ tingkat desa yang hingga saat ini menjadi kebanggaan Masyarakat Ngadirejo.

Sumber :
https://www.facebook.com/wisatangadirejo [oleh : Sodikin, cerita : Mbah Slamet Temah]

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Asal Usul Desa Ngadirejo Kecamatan Reban Kabupaten Batang"

Post a Comment