My Trip to Dieng Plateau


Gapura Masuk Kawasan Dieng Plateau

Perjalanan kali ini hari Sabtu tanggal 15 s.d 17 Agustus 2015 dengan ditemani oleh My Wife, mas Irawan, Galih, Zahwa, Zalfa, Hasna,  kami mengunjungi “Negeri di atas awan”  begitulah sebutan untuk dataran tinggi Dieng yaitu sebuah kawasan dataran tinggi di Jawa Tengah yang masuk dalam wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo tepatnya berada di sebelah Barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Dataran tinggi terluas di Dunia setelah Nepal ini menyuguhkan pemandangan alam yang sungguh menakjubkan.

Untuk mempersingkat waktu tempuh perjalanan kami melewati jalur Jumprit-Tambi. Dieng menjadi tujuan wisata dari berbagai penjuru dunia, banyak turis domestik maupun mancanegara yang mengunjungi Dieng. Dengan adanya pemandangan yang sangat indah membuat setiap wisatawan yang datang kesana merasa sangat puas, karena selain pemandangannya yang indah warga masyarakat dieng juga ramah kepada para wisatawan yang datang. Sepanjang perjalanan menuju Dieng kita akan disuguhkan perkebunan sayur mayur yang tertata rapi di lereng-lereng perbukitan. Sehingga membuat para wisatawan merasa kagum, bagaimana cara mereka mengolah ataupun merawat tanaman mereka karena letak lahan pertanian mereka yang curam. Dieng adalah tempat yang cocok untuk referensi liburan baik bersama keluarga maupun sendiri.

TEMPAT-TEMPAT WISATA DIENG :

§  KOMPLEK CANDI ARJUNA
 
Komplek Candi Arjuna Dieng

Dataran Tinggi Dieng memiliki kawasan candi yang sangat luas. Diperkirakan, candi-candi yang terdapat di kawasan ini menempati area seluas 90 hektare. Hanya saja, baru sebagian kecil dari candi-candi tersebut sudah selesai direstorasi. Dari sekian banyak candi yang ada Dataran Tinggi Dieng, Kompleks Candi Arjuna merupakan yang terluas.
Terletak di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Kompleks Candi Arjuna memiliki luas sekitar 1 hektare. Di kompleks ini, terdapat lima bangunan candi, yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Selain Candi Semar, keempat candi lain merupakan candi utama yang digunakan sebagai tempat bersembahyang.
Melihat dari bentuk serta ornamen yang terdapat pada setiap candi, diperkirakan keempat candi tersebut dibangun pada masa yang berbeda. Candi Arjuna merupakan yang dibangun paling awal, sementara Candi Sembadra merupakan yang dibangun paling akhir.
Perkiraan ini didasarkan pada perbedaan gaya bangunan candi. Candi Arjuna masih sangat kental dengan gaya candi-candi dari India. Sementara pada Candi Sembadra sudah terlihat pengaruh kebudayaan lokal yang sangat kuat. Pengaruh ini salah satunya dapat dilihat dari relung yang ada pada candi. Candi-candi bergaya India memiliki relung yang menjorok ke dalam, sementara pengaruh kebudayaan lokal akan memiliki relung yang menjorok ke luar.
Kompleks candi ini pertama kali ditemukan pada abad 18 oleh seorang tentara Belanda, Theodorf Van Elf. Saat pertama kali ditemukan, kondisi candi tergenang air. Upaya penyelamatan candi pertama kali dilakukan oleh HC Corneulius yang berkebangsaan Inggris sekitar 40 tahun setelah pertama kali candi ini ditemukan. Usahanya kemudian dilanjutkan oleh seorang berkebangsaan Belanda bernama J Van Kirnbergens.

§  TELAGA WARNA dan PENGILON
 
Telaga Warna dan Telaga Pengilon

Telaga warna memiliki keunikan dimana warna airnya jika dilihat dari jarak tertentu akan membiaskan warna-warna berbeda-beda akibat kandungan belerang didalam dasar airnya.
Telaga Warna Dieng bersebelahan dengan telaga Pengilon. sebuah telaga yang meski bersebelahan dengan telaga warna yang airnya kedap kandungan belerang, namun telaga pengilon seperti tak terpengaruh sama sekali, airnya justru jernih bening bagai cermin.

§  GOLDEN SUNRISE SIKUNIR
 
Golden Sunrise Sikunir

Sikunir merupakan surganya bagi pemburu golden sunrise, kita dapat menikmati matahari terbit Untuk mencapai gunung Sikunir desa Sembungan yang merupakan desa tertinggi di pulau Jawa yang terletak 7 Km dari poros Dieng dapat menggunakan kendaraan pribadi ataupun sepeda motor mengingat tidak ada kendaraan umum sampai ke desa tersebut. Untuk sampai ke puncak Sikunir dari lokasi parkir hanya diperlukan waktu sekitar 45 menit dengan trek yang tidak terlalu menanjak.

§  KAWAH SIKIDANG
 
Kawah Sikidang Dieng

Kawah Sikidang terletak di Desa Dieng Kulon, Kawah ini memiliki keunikan dibandingkan kawah-kawah yang lain. Kawah utama di kawasan ini berpindah-pindah. Karena letak kawah utama yang berpindah-pindah inilah kawasan ini diberi nama “Sikidang”, yang berasal dari “Kidang” (Kijang). Kawah utama yang berpindah-pindah disamakan dengan sifat kijang yang senang melompat ke sana-ke mari.
Mengenai asal-usul kawah ini bahwa di sekitar kawasan ini pada jaman dahulu hiduplah seorang gadis cantik yang bernama Shinta Dewi. Kecantikan Shinta Dewi tersebar ke penjuru daerah sehingga banyak pemuda yang ingin meminangnya. Sayang, tidak ada yang berhasil meminang Shinta Dewi karena gadis cantik tersebut meminta mas kawin dalam jumlah besar.
Kecantikan Shinta Dewi pun terdengar oleh Kidang Garungan, seorang pangeran kaya raya. Namun, walau kaya raya, sesuai namanya, ada yang tidak biasa pada pangeran ini. Kidang Garungan memiliki tubuh manusia tapi kepalanya merupakan kepala kijang, karenanya diberi nama “kidang”.
Pangeran Kidang pun mengutus pengawal untuk menyampaikan lamarannya kepada Shinta Dewi dengan iming-iming mas kawin yang sangat banyak. Mendengar mas kawin yang ditawarkan oleh pengawal yang datang menemuinya, Shinta Dewi menerima lamaran Pangeran Kidang. Dalam benaknya, seorang pangeran yang kaya pastilah juga berwajah tampan.
Namun, alangkah terkejutnya Shinta Dewi ketika melihat perwujudan Pangeran Kidang. Shinta Dewi pun menjadi bingung karena dia telah mengiyakan lamaran dari sang pangeran. Gadis ini pun mencari akal untuk membatalkan lamaran.
Shinta Dewi lalu memohon kepada Pangeran Kidang agar dibuatkan sebuah sumur yang besar karena masyarakat sekitar sangat kesulitan mendapatkan air. Sumur tersebut harus dibuat sendiri oleh sang pangeran dalam satu hari. Pangeran pun menyanggupi.
Dengan penuh semangat, Pangeran Kidang menggali tanah menggunakan tangan dan terkadang tanduknya. Melihat itu, Shinta Dewi kembali khawatir kalau-kalau sang pangeran berhasil menyelesaikan permintaannya. Karena kalut, Shinta Dewi lalu meminta masyarakat menimbun sumur yang sedang digali sang pangeran, selagi sang pangeran masih berada di dasar sumur.
Karena banyaknya orang yang menimbun sumur itu, Pangeran Kidang akhirnya terkubur hidup-hidup di sumur yang digalinya sendiri. Amarah sang pangeran tak tertahan. Amarah itulah yang kemudian membentuk Kawah Sikidang.
Saat ini, pengelolaan Kawah Sikidang berada di bawah Perum Perhutani. Saat berkunjung ke sini, disarankan membawa masker karena udara di sekitar kawasan memiliki bau belerang yang pekat. Selain itu, pengunjung di kawasan ini diharapkan tidak terlalu dekat dengan kawah karena suhu di permukaan kawah utama mencapai 80-90 derajat Celcius.
Kawah Sikidang dibuka untuk umum setiap hari dari jam 07.00 WIB sampai 16.00 WIB. Tiket masuk ke tempat wisata ini merupakan tiket terusan dengan Kompleks Candi Arjuna. Harga tiket tersebut Rp10.000 per orang.

§  KAWAH SILERI
 
View Kawah Sileri Dieng dari Gardu Pandang

Sileri merupakah kawah terluas di kawasan Dieng,terletak di Desa Kepakisan atau berada ditengah perjalanan dari Kepakisan menuju pemandian air panas Bitingan. Kawah Sileri merupakan kawah yang paling aktif dan pernah meletus beberapa kali yang sempat tercatat adalah tahun 1944, 1964, 1984, 2003, 2009. Kondisi Kawah sileri saat ini sangat aman untuk dikunjungi, dan menjadi jujugan wisatawan yang ingin melihat fenomena alam Dieng dari dekat.
Kawah dengan luas sekitar 4 ha ini lokasinya dapat ditempuh sekitar 15 menit dari poros Dieng dengan jarak 7 Km. Nama Sileri berasal dari bahasa Jawa yaitu Leri atau air sisa cucian beras, air kawah yang terlihat berwarna silver dan mengalir kesungai Dolog inilah yang akhirnya diberi nama Leri atau Sileri, dipaskan dengan warna air yang terlihat kotor seperti leri.

§  KAWAH CANDRADIMUKA
Kawah Candradimuka, salah satu dari banyak kawah yang ada di Dieng. Nama Candradimuka memang sudah tidak asing ditelinga kita. Kawah yang konon merupakan tempat Gatutkaca di Jedi hingga memperoleh kesaktian mandraguna otot kawah tulang besi itu menjadi nama yang diberikan pada kawah yang berada di Desa Pekasiran Batur Banjarnegara.

§  SUMUR JALATUNDA
Sumur Jalatunda terbentuk dari letusan kawah Vulkanis beratus tahun lalu. Sumur Jalatunda memiliki diameter lingkar hingga 90 meter dan kedalaman lebih dari 150 meter. Sumur Jalatunda masuk wilayah Zona dua Wisata dieng atau tepatnya berada di Desa Pekasiran Batur, Kabupaten Banjarnegara.

§  TELAGA CEBONG
Terletak di desa tertinggi di Jawa yaitu Desa Sembungan, Telaga Cebong merupakan telaga yang terjadi dari bekas kawah purba, dulunya memiliki luas sekitar 18 ha, akan tetapi lama kelamaan mulai menyempit dan tersisa sekitar 12 Ha. Lokasi Telaga Cebong berada disebelah barat  Gunung Sikunir dengan bentuk menyerupai cebong/berudu mungkin dari bentuk itulah akhirnya telaga ini diberi nama telaga cebong.
Air telaga Cebong dipagi hari sering tampak berkilau seperti minyak apabila disaksikan dari jalan menuju Gunung Sikunir, hal ini juga menjadi moment terbaik untuk diabadikan oleh para pengunjung. Selain untuk kepentingan pariwisata, telaga Cebong juga menjadi tumpuhan harapan petani untuk setempat untuk mengairi ladangnya.

§  GUNUNG PRAU
 
Golden Sunrise Puncak Gunung Prau

 Gunung Prau adalah gunung kecil yang menjadi tujuan paling favorit para pendaki di Indonesia khususnya pulau Jawa sejak 2014. Puncak gunung Prau ini diklaim memiliki tempat terbaik se-Asia Tenggara untuk melihat matahari terbit. Gunung Prau terletak di dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Sejak 2014 Gunung Prau didatangi banyak sekali para pendaki yang ingin melihat langsung penampakkan sunrise dari Gunung Prau tersebut.
Bukit Teletubies Gunung Prau
Jalur pendakian Gunung Prau yang paling terkenal adalah lewat jalur “Patak Banteng”. Karena gunung Prau dikenal dengan jalur pendakian yang pendek dan relatif mudah maka gunung Prau cocok sekali untuk dijadikan destinasi bagi para pendaki pemula. Pendakian rata-rata hanya membutuhkan 3-4 jam. Sepanjang trek perjalanan sampai kita akan berjumpa dengan pemandangan yang sangat indah dan tidak ada duanya.
Kita bisa melihat pemandangan dataran tinggi Dieng dan Telaga Warna dari jauh. Kita juga akan berjumpa dengan perkebunan, hutan, padang bunga Daisy. Sampai puncak gunung Prau kita akan disambut oleh Bukit Teletubies dan jika pagi tiba kita akan dihadiahi “Golden Sunrise” gunung Prau. Golden sunrise gunung Prau inilah yang diklaim paling bagus se-Asia Tenggara. 
Taman Bunga Daisy Gunung Prau
 Dari situ kita bisa melihat pucuk banyak gunung di pulau Jawa seperti gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro, Slamet.Gunung Prau memiliki ketinggian 2.565 mdpl. Ketinggian yang cukuplah jika dibandingkan dengan gunung berapi namun jalur pendakiannya pendek dan waktu perjalanan juga singkat. Hal tersebut dikarenakan titik memulai pendakian kita sudah berada pada ketinggian 1.700 mdpl.

§  TELAGA MENJER
Telaga menjer merupakan telaga terluas dikawasan Dataran Tinggi Dieng, terletak di Desa Maron Kecamatan Garung Kabupaten Wonosobo, dengan luas sekitar 70 Ha dan kedalaman sekitar 60 meter, berada pada ketinggian sekitar 1300 Mdpl, tepatnya dibawah gunung Sikudi,
Untuk mencapai lokasi dapat ditempuh dengan mobil pribadi maupun motor roda dua, jalannya agak naik dan berkelok, dari kota wonosobo sekitar 12 Km kearah utara, hanya diperlukan waktu sekitar 30 menit sampai ke lokasi, dengan mengambil jalan ke kiri sebelum sampai dipasar tradisional Garung, Telaga Menjer sangat mudah dijangkau karena berada pada pertengahan jalur wisata Dieng.






Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "My Trip to Dieng Plateau"

Post a Comment